Senin, 19 Desember 2011

Sebuah Jeritan Hampa

,
Entah Di mulai darimana awal kisah ini..

Kadang ku mencoba kuat setegar batu karang..

Namun perlahan batu karang itu rapuh..

Oleh deburan teriakan ombak yg menghempas..

Ternyata Aku tak setegar dahulu..



Hati ini mulai berulah..

Sakit..

Perih tak tampak..

Akan duka yang menyiksa jiwa..



Namun semua tertahan tak dapat menyeruak..

Tak ada yang tau, tak ada yang peduli..

Tak ada yang mendengar jeritan hati ini..

Aku terdiam membisu hanya dengan air mata..



Kau Tau Apa..

Akan Duka yang menyiksa batin..

Sesak.. Resah..

Lagi Perih



Cukup Sudah Aku berbual pada dunia!

Aku tak tahan dengan semua dusta!

Dunia ini fana, tuan!

Rasanya aku ingin berteriak!



Namun Tuhan Ada ada saja..

Untuk apa kita saling dipertemukan

Jikalau kau hanya membuatku menderita!

Akan bualan racunmu itu!



Kau Bilang Aku sombong?

Tahu apa kau akan diriku?

Aku terlalu naif!! Kau pikir begitu??

Maaf Tuan! kau salah besar!



Aku terlihat sombong karena aku tak mau terlihat rapuh!

terutama dihadapanmu, tuan!

Cukup sudah aku berdusta dengan semuanya!

Aku terlalu banyak mengelak realita!

Jika aku adalah debu! Ku berharap angin menyapuku hingga terhapuskan!



Seperti Dongeng

Berharap bisa memiliki akhir yang bahagia

Tapi pada akhirnya aku menyadari

dongeng tidak selalu memiliki akhir yang bahagia


JADIKAN AKU YANG TERAKHIR “SAYANG”

,
      Rasa itu masih sama sayang…
      Masih sama seperti kemarin,
      saat ini, esok, entah sampai kapan… 
      Aku kan selalu berusaha sayang….
      Memahami, juga mengerti kehidupan yang kau jalani
      Meski…

Pesan Terakhir

,
di bening matamu kemarin
kutemukan sebutir air mata yang kau tahan
mengeras jadi mutiara
jatuh ke bibirmu
tinggal disana sebentar
menggetar
kemudian menyusup ke tenggorokan
 

phy_U cayan'K Copyright © 2011 | Template design by O Pregador | Powered by Blogger Templates